, , , , , ,

Menguak Musuh yang Persisten: Mahasiswa Magister Kedokteran Tropis UGM Kuasai Teknik Kunci Diagnostik Tuberkulosis dalam Praktikum Mikrobiologi

Yogyakarta – Dalam upaya membekali mahasiswa dengan kemampuan diagnostik laboratorium yang presisi untuk penyakit infeksi tropis yang kompleks, Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Tropis (IKT) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan praktikum Mikrobiologi yang mendalam. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 3 Desember 2025 ini menjadi momen krusial bagi para calon ahli, karena berfokus pada penguasaan teknik pengecatan Acid-Fast Bacilli (AFB), sebuah metode pewarnaan klasik namun tetap menjadi baku emas awal yang vital dalam identifikasi bakteri kelompok Mycobacterium, terutama Mycobacterium tuberculosis, penyebab tuberkulosis (TB). Proses pembelajaran yang teknis dan membutuhkan ketelitian tinggi ini didampingi langsung oleh pakar mikrobiologi klinik, dr. Marselinus Edwin Widyanto Daniwijaya, Sp.MK., Ph.D., yang membimbing mahasiswa melalui setiap tahap prosedur dengan detail yang ketat.

Praktikum ini bukan sekadar latihan rutin pewarnaan bakteri. Teknik AFB, seperti Ziehl-Neelsen atau Kinyoun, merupakan seni sekaligus sains diagnostik yang sangat spesifik. Dibimbing langsung oleh dr. Edwin, mahasiswa diajak untuk memahami prinsip biokimia di balik teknik ini: bagaimana sifat unik dinding sel Mycobacterium yang kaya akan asam mikolat dan lipid kompleks membuatnya tahan asam (acid-fast), sehingga bakteri ini mempertahankan warna merah karbol fuchsin bahkan setelah dicuci dengan larutan asam-alkohol, sementara bakteri lain dan latar belakang akan terwarnai biru metilen. Dalam suasana laboratorium yang penuh konsentrasi, para mahasiswa secara cermat mempraktikkan proses pemanasan preparat (flaming) untuk membantu penetrasi zat warna, pencucian yang tepat waktu, dan pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran minyak imersi. Setiap langkah harus dilakukan dengan presisi, karena sedikit kesalahan dalam prosedur dapat menghasilkan negatif palsu atau positif palsu, yang berimplikasi serius pada diagnosis pasien.

Dr. Edwin menekankan konteks klinis yang luas dari keterampilan teknis ini. Tuberkulosis, sebagai penyakit tropis yang masih menjadi beban kesehatan global dan nasional, membutuhkan diagnosis yang cepat dan akurat. Kemampuan membaca dan menginterpretasi preparat AFB menghitung jumlah basil tahan asam (BTA) per lapangan pandang, mengamati morfologi, dan pola pengelompokan bakteri—adalah kompetensi dasar yang sangat menentukan dalam algoritma diagnosis TB, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Mahasiswa juga diajak mendiskusikan keterbatasan dan keunggulan teknik AFB dibandingkan dengan metode molekuler seperti Xpert MTB/RIF, serta peran pemeriksaan mikobakteriologi dalam konfirmasi TB ekstrapulmonar. Praktikum ini, dengan demikian, berhasil menjembatani ilmu dasar mikrobiologi dengan aplikasi klinis langsung dalam pengendalian penyakit menular yang memiliki beban tinggi di Indonesia.

Penguasaan teknik diagnostik mendasar seperti pengecatan AFB oleh calon ahli kedokteran tropis memiliki relevansi dan dampak yang sangat kuat terhadap upaya global mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan praktikum ini secara langsung menjadi investasi sumber daya manusia untuk beberapa target kunci:

  1. SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Fokus praktikum ini secara langsung menunjang Target 3.3 yang bertujuan mengakhiri epidemi tuberkulosis pada tahun 2030. Diagnosis yang akurat dan cepat adalah pondasi dari strategi End TB. Dengan menghasilkan lulusan yang mahir dalam teknik diagnostik TB konvensional yang masih sangat luas digunakan, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap teknologi canggih, program studi ini berkontribusi nyata pada penguatan sistem kesehatan tingkat dasar. Ini juga selaras dengan Target 3.c tentang peningkatan pembiayaan kesehatan, perekrutan, dan pengembangan tenaga kesehatan di negara berkembang, khususnya di bidang laboratorium.
  2. SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Praktikum yang dipandu ahli seperti ini merupakan perwujudan dari Target 4.4 untuk meningkatkan secara substansial jumlah pemuda dan dewasa yang memiliki keterampilan relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, untuk pekerjaan dan kewirausahaan. Metode pembelajaran hands-on yang ketat membangun kompetensi teknis (hard skills) dan ketelitian (soft skills) yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja kesehatan global.
  3. SDG 10: Mengurangi Kesenjangan (Reduced Inequalities). Tuberkulosis sering kali berdampak tidak proporsional pada populasi rentan dan termiskin. Dengan meningkatkan kapasitas diagnostik bahkan melalui metode yang dianggap konvensional namun sangat penting praktikum ini secara tidak langsung mendukung Target 10.2 untuk memberdayakan dan mempromosikan inklusi sosial, ekonomi, dan politik bagi semua orang, melalui akses yang lebih baik terhadap layanan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
  4. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Pengembangan kapasitas tenaga laboratorium merupakan area kritis dalam kemitraan global untuk kesehatan. Keahlian yang ditransfer dalam praktikum ini memperkuat kemandirian nasional dalam diagnosis penyakit prioritas, yang merupakan prinsip dari Target 17.9, sekaligus menyiapkan tenaga ahli yang dapat berkolaborasi dalam jejaring riset dan pengendalian penyakit global.

Dengan demikian, setiap tetes reagen dan setiap pengamatan di bawah mikroskop dalam praktikum Mikrobiologi ini memiliki makna yang mendalam. Ia adalah langkah nyata dalam pendidikan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya mengerti teori, tetapi juga terampil dalam seni diagnostik yang menyelamatkan jiwa, sekaligus menyumbang pada upaya kolektif global untuk mengeliminasi penyakit menular yang masih menghantui masyarakat tropis dan dunia.

Penulis: Fikri Wahiddinsyah

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *